Tan A Peng 12 Tahun Bekerja tak Digaji dan Dipecat

“Tan A Peng diberhentikan dari Kilang Padi Milik DT AA di Simpang Empat, Setelah matanya buta akibat kecelakaan kerja. Dia hanya diberi Rp. 50 untuk upah 12 Tahun Bekerja”

Kisaran, PRESTASI REFORMASI.Com – Tan A Peng alias Yuswanda mendatangi kantor LBH Ombudsman di Kisaran, baru-baru ini, menemui langsung Advokat Syahrul Eriadi di ruang kerjanya. Kedatangan A Peng untuk melaporkan permasalahan ketidakadilan yang tengah dihadapinya.

Menurut Tan A Peng, pihak Kilang Padi DT AA Simpang Empat yang merupakan tempat ia bekerja selama ini telah memperlakukan dirinya secara tidak adil.

Ia diberhentikan secara sepihak setelah mata sebelah kirinya mengalami kebutaan dan pemilik kilang padi hanya memberikannya uang sebesar Rp. 50 juta sebagai upahnya selama 12 tahun bekerja di tempat tersebut.

“Saya tidak diberitahu berapa gaji saya per hari, atau per minggu, atau per bulan. Yang pasti ketika saya mendatangi bang A Kun di kantornya, dia langsung menyerahkan uang Rp. 50 Juta dan mengatakan bahwa uang tersebut adalah gaji saya  selama 12 tahun bekerja”, kata A Peng.

Advokat Syahrul Eriadi selaku Direktur LBH Ombudsman membenarkan kedatangan Tan A Peng ke lembaga yang dipimpinnya. Menurut Syahrul, A Peng mengaku bekerja di perusahaan penggilingan padi DT AA Simpang Empat, sejak tahun 2005 sampai dengan 2017.

Tan Apeng, mata sebelah kiri tak bisa lagi melihat sehingga dipecat pemilik kilang padi, padahal sudah 12 tahun bekerja di sana.

Setelah 12 tahun bekerja, tiba-tiba ia diberhentikan sepihak karena matanya buta akibat kemasukan debu penggilingan saat bekerja dan terjatuh dari truk tronton ketika memuat goni-goni berisi beras di kilang padi DT AA.

Awalnya A Peng tentu saja terpukul, namun dia tak tahu harus berbuat apa. Untuk itu dia pun meminta supaya A Kun menyerahkan semua berkas terkait pengobatan matanya yang sebelah kiri yang saat ini mengalami kebutaan itu.

Ketika meminta berkas-berkas pengobatannya, bukan rasa prihatin dari pihak kilang padi yang diperolehnya, malah A Kun mengusir A Peng dan menyuruhnya supaya menghubungi keluarganya guna menjemput dari kilang padi DT AA Simpang Empat.

Menurut Syahrul, pihaknya (LBH Ombudsman, Red) akan segera menyurati A Kun selaku Pengusaha Kilang Padi DT AA Simpang Empat guna meminta klarifikasi terhadap permasalahan A Peng.

Selain itu, LBH Ombudsman juga akan meminta penjelasan kepada semua pihak terkait. Setelah diperoleh keterangan dari semua pihak baru ditentukan langkah selanjutnya. (maulana)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *