Dari Jual Pakaian Bekas, Kedai Nasi hingga Buka Lahan Agro Wisata

Tarutung, PRESTASIREFORMASI.Com — Bagi kebanyakan pensiunan Pegawai Negeri Sipil (PNS) — belakangan ini akrab disebut Aparatur Sipil Negara (ASN)– berakhir masa kerja seolah-olah sudah tamat dan “kiamat” lah karir dan masa depan. Bahkan merasa tidak berguna lagi.

Padahal pola pikir seperti ini adalah salah dan keputusasaan, sebab ternyata banyak PNS setelah pensiun justeru menjadi sukses dan mapan menjadi pengusaha. Salah seorang di antaranya adalah Hot Parulian Tarihoran, yang mengakhiri masa baktinya sebagai PNS pada tahun 2012 lalu.

Ia menyambut hangat Tim PRESTASI REFORMASI, baru-baru ini, yang mewawancainya di tempat usahanya Rumah Makan Islam Podomoro, berlokasi di Jalan Ir. Menanti Sitompul Desa Simarangkir Julu, jalan lintas Sumatera menuju Padangsidempuan Tapsel.

   Tarihoran garden ditanami berbagai jenis buah, khususnya nenas yang diperkirakan mulai panen dua tahun lagi.

Tarihoran mengungkapkan ringkasan cerita, ketika masih aktif sebagai PNS di Dinas Kesehatan Tapanuli Utara, telah membuka berbagai usaha untuk memenuhi kebutuhan biaya rumah tangga dan pendidikan anak-anak.

PNS Angkatan tahun 1980 ini tak pernah merasa gengsi jalani usaha apa pun yang penting halal. Diawali berjualan pakaian bekas yang dikenal dengan sebutan Monza.

Bahkan Tarihoran pernah menjadi tukang pangkas rambut, jual buah-buahan dan akhirnya pada tahun 2012 membuka warung nasi Podomoro. Pertama kali berlokasi di Jalan Lintas Sumatera Sipoholon.

Semua pekerjaan sambilan itu ditekuni dengan serius dan terus mempelajari berbagai kelemahan dan tak kehabisan ide untuk membuka lagi usaha yang berskala besar. Tujuannya, selain meningkatkan omset pendapatan juga dapat membuka lapangan kerja bagi orang lain yang membutuhkan.

Kebun Tarihoran3
Kolam pembibitan dan pembesaran ikan yang terletak di lembah perkebunan buah ini menambah keindahan Tarihoran Garden. (Foto-foto: Jumpa S. Tobing)
“Alhamdulillah…, meskipun dengan usaha kecil-kecilan seperti itu ternyata 4 laki-laki dan satu perempuan berhasil menyelesaikan studi di perguruan tinggi. Sejak awal saya sudah bertekad tidak hanya sukses membina usaha tetapi juga harus sukses membina anak-anak,” ujarnya.

Ia memaparkan, empat laki sudah sarjana dan satu perempuan dokter yang kini kelimanya berdomisili di Kota Medan. Satu di Perusahaan Huawei, satu lawyer, satu kimia farma, satu sedang koas di Fakultas Kedokteran USU,” tutur ayah dari enam anak, empat laki-laki dan dua perempuan ini.

Semangat pantang menyerah dari Hot Parulian Tarihoran itu ternyata tak sia-sia, setelah melakukan pengamatan dan perbandingan, akhirnya pada tahun 2014, Dia pun memindahkan lokasi Rumah Makannya dari Sipoholon ke Jalan Ir. Menanti Sitompul Desa Simarangkir Julu.

Inilah klimaks dari kegigihannya berdagang dari sejak masih aktif sebagai PNS hingga pensiun. Dewi Fortuna pun akhirnya menyertainya, warung nasi Podomoro yang khas dengan Nasi Sotonya ini, ramai disinggahi orang untuk makan siang maupun makan malam, khususnya para pengemudi mobil dan angkutan serta penumpang yang melintas tujuan Medan-P.Sidempuan atau sebaliknya.

Dalam waktu relatif singkat, tiga tahun, Warung nasi Podomoro telah berhasil mengisi pundi-pundi dan tabungannya. Selain itu, ia juga sudah mempekerjakan 10 karyawan untuk membantu kelancaran usahanya itu.

Dan kini, dengan usia yang realtif telah matang, ternyata Hot Parulian tak juga kehabisan ide. Ia pun mulai berpikir membuka kawasan agro wisata di lahan tanah warisan milik keluarga.

Gambar Tarihoran ketika diwawancarai PRESTASI REFORMASI.Com Ahmad Nurdin S. & Jumpa Sihol Lumbantobing (Foto-foto: Jumpa S. Tobing)

TARIHORAN GARDEN
Ide untuk buka agro wisata itupun akhirnya direalisasikannya pada tahun 2016. Di areal lahan berbukit dan dihiasi lembah, Hot Parulian Tarihoran mulai merancang dan menanami berbagai jenis tanaman buah yang cocok untuk agro wisata.

“Saya buka kebun buah ini dengan tujuan, orang yang datang ke mari setelah panen, tidak hanya memetik beragam buah tetapi juga menikmati pemandangan dan sejuknya udara di kawasan perbukitan,” ungkap Tarihoran.

Kini, di areal seluas dua hektar itu selain ditanami beragam jenis, juga dihiasi tiga kolam ikan yang berada di lembah, dipersiapkan sebagai kolam pemancingan bagi pengunjung yang hobi memancing. Sekarang ini ikannya masih dalam tahap pembesaran.

“Insya Allah, dua tahun lagi Tarihoran Garden sudah resmi dibuka bersamaan dengan panen perdana beragam buah, mulai dari nenas, alpokat, markisa dan beragam tanaman lainnya,” ujarnya.

Hot Parulian Tarihoran juga menceritakan kisah pengalaman spritual yang dialaminya. Berkat dukungan dan dorongan istrinya, beberapa waktu lalu menyantuni dan berbagi rezeki dengan anak yatim piatu.

Bukan itu saja, Tarihoran dan istri juga mengucurkan dana yang lumayan besar memugar dan pasang keramik makam leluhurnya di kawasan Simorangkir. Meskipun tidak seakidah dengannya, karena berbeda keyakinan.

Namun tanpa diduga, Allah Swt. kontan membalasnya berlipat ganda, ada beberapa perusahaan memesan nasi kotak dalam jumlah banyak untuk acara berbuka puasa.

“Ternyata Allah maha pemurah dan pemberi rezeki. Dan ketika melihat kebun di kawasan Siarang-arang, dalam suasana pemandangan yang indah itu tanpa sadar saya bernyanyi, Alhamdulillllah….wa Syukurillah. Saya rasakan dan selalu syukuri nikmat yang diberikan Allah,” tutur Hot Parulian Tarihoran mengakhiri. (A.Nurdin S./Jumpa S.Tobing)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *